Sabtu, 22 September 2012

Advanced Hypnotic Abreaction Techniques


Add caption

Abreaction adalah topik yang sangat menarik untuk dibahas. Setiap hipnoterapis dalam praktik membantu klien mengatasi masalahnya pasti pernah mengalami klien yang meledak emosinya. Nah, ledakan emosi ini yang disebut dengan abreaction atau catharsis.

by Adi W. Gunawan :
 Saya pernah membahas abreaction di artikel sebelumnya dengan judul ìHow to Handle Abreaction and Catharsisî. Jika anda belum membacanya saya sarankan untuk mengunjungi http://www.quantum-hypnosis.com/index.php?pid=dtl_artikel&id=60.
Materi yang saya tulis di artikel ini adalah materi update, hasil penelitian, pengujian, dan pengembangan yang dilakukan oleh Tim Advanced Research & Development Quantum Hypnosis Indonesia, dan saya ajarkan di kelas 100 jam
sertifikasi hipnoterapis melalui pelatihan Scientific EEG & Clinical Hypnotherapy.
Penggunaan abreaction dalam terapi bukanlah hal baru. Freud juga menggunakan teknik ini dan menemukan bahwa simtom histeria pada klien hilang seketika dan tidak bisa muncul lagi jika klien berhasil secara menyeluruh membangkitkan kembali memori-memori beserta emosi yang menjadi penyebab histeria.

Freud dan kawannya Breuer menyimpulkan bahwa simtom muncul sebagai akibat dari represi memori yang berhubungan pengalaman yang sangat traumatik. Hal ini mengakibatkan terjadinya blocking energi. Freud menggunakan hipnosis dan sugesti untuk melakukan release terhadap blok energi dan berhasil menyembuhkan kliennya. Temuan ini mereka tulis dalam buku Studien Uber Hysterie di tahun 1895.
Namun dalam perjalanan karirnya Freud menemukan bahwa simtom yang telah berhasil dihilangkan ternyata muncul lagi. Inilah sebabnya mengapa Freud merasa bahwa kemajuan terapi yang dialami klien, bila menggunakan teknik abreaction, hanya bersifat temporer.
Penelitian literatur menghasilkan satu temuan menarik. Freud hanya melakukan single abreaction pada kliennya. Padahal, untuk kasus berat akibat pengalaman yang sangat traumatik, emosi yang tertekan di bawah sadar sangatlah intens. Single abreaction umumnya tidak mampu secara tuntas menguras habis semua emosi ini. Untuk bisa benar-benar mengeluarkan semua emosi klien, untuk kasus yang berat, perlu dilakukan multiple abreactions, dan ini yang tidak dilakukan oleh Freud.
Penelitian manfaat teknik abreaction secara sangat terkontrol dilakukan oleh William Brown (1920) yang melakukan terapi pada ribuan mantan tentara yang mengalami masalah mental setelah pulang dari medan perang. Brown menggunakan abreaction untuk mengeluarkan emosi yang tertekan di bawah sadar dan berhasil membantu klien-kliennya pulih. Brown mengatakan bahwa agar efektif maka abreaction harus intens, tuntas, dan diulangi. Baru setelah itu dilakukan rekonstruksi psikologis agar kesembuhan bersifat permanen.
Penelitian pemanfaatan abreaction selanjutnya dilakukan oleh Grinker dan H. Spiegel pada masa perang dunia kedua. Teknik ini selanjutnya disempurnakan oleh John G. Watkins dan berkembang hingga saat ini dengan banyak pendalaman dan penajaman teknik.
Abreaction sebenarnya adalah hal yang normal dan terjadi secara spontan dengan tujuan untuk melepas tekanan (mental atau emosi) atau stimulasi berlebihan yang mengganggu keseimbangan sistem diri manusia. Abreaction adalah bagian dari proses pemeliharaan diri, upaya penyesuaian individu untuk mencapai atau mempertahankan keseimbangan (equilibrium) yang diinginkan.
Untuk lebih memudahkan anda memahami abreaction, bayangkan sebuah tungku yang terbuat dari tanah liat. Tungku ini berisi air dan dalam kondisi normal ada api yang menyala dan membakar dasar tungku.
Bila api ini terus dibiarkan membakar tungku maka temperatur air di dalamnya akan naik dan akhirnya akan mendidih atau menguap. Ini adalah proses alamiah dan normal. Air yang bergolak dan mendidih ini adalah sama dengan abreaction yang terjadi secara alamih pada diri manusia.
Namun apa yang terjadi bila tungkunya ditutup rapat?
Api yang terus membakar tungku akan membuat isi tungku semakin panas dan tekanan uap semakin tinggi. Bila ini diteruskan maka suatu saat nanti tungku akan meledak dan hancur.
Agar tidak hancur maka perlu dibuat lobang atau retakan kecil di dinding tungku untuk melepas uap yang terperangkap di dalamnya. Uap yang keluar akan muncul dalam bentuk simtom baik berupa perasaan tidak nyaman atau sakit fisik (psikosomatis).
Lebih jelas mengenai Teori Tungku Mental bisa anda baca di http://www.quantum-hypnosis.com/index.php?pid=dtl_artikel&id=48.
Dalam kondisi tertentu, biasanya saat seseorang dalam kondisi deep trance, maka pikiran bawah sadar bisa membuat retakan besar sehingga uap air keluar dengan sangat deras dan banyak. Bila ini terjadi maka klien akan mengalami spontaneous hypnotic abreaction yang hebat.
Kita perlu membedakan antara hypnotic abreaction, abreaction yang terjadi baik secara spontan atau karena disengaja melalui provokasi terencana dan terstruktur  saat subjek dalam kondisi deep trance, dan abreaction yang terjadi dalam kondisi kesadaran normal. Beda dua abreaction ini ada pada kondisi kesadaran saat abreaction terjadi, intensitas, dan tujuannya.
Jadi, bila melihat penyebab terjadinya maka abreaction dibagi menjadi dua jenis. Pertama, abreaction yang disengaja. Abreaction jenis ini memang sengaja dilakukan oleh terapis terhadap klien dengan menggunakan tenik tertentu dan telah direncanakan dengan sangat hati-hati dan terstruktur. Terapis benar-benar tahu apa dan mengapa ia melakukan hal yang ia lakukan.
Kedua, abreaction yang tidak direncanakan atau bersifat spontan. Abreaction ini dapat terjadi sewaktu-waktu saat sesi terapi berlangsung. Terapis yang andal akan mampu memfasilitasi dengan baik abreaction yang disengaja maupun yang spontan karena secara teknis penanganannya sebenarnya sama saja.
Abreaction bila ditinjau dari siapa yang mengalaminya terbagi menjadi dua jenis yaitu abreaction yang dialami oleh (total) individu dan yang kedua, abreaction yang hanya dialami oleh Ego State. Dua jenis abreaction ini secara teknis sama namun berbeda pada proses penanganannya. Masing-masing mengikuti aturan main yang berbeda namun dengan tujuan akhir yang sama.
Bila ditinjau dari metode untuk mengeluarkan emosi, ada enam teknik abreaction. Dua dari total enam teknik abreaction yang diajarkan di kelas QHI adalah fractionated abreaction dan borrowed abreaction. Teknik borrowed abreaction adalah hasil riset dan pengembangan yang dilakukan oleh alumnus QHI  Bpk. Sjahsjam Susilo.
Seringkali terjadi klien tidak bisa, lebih tepatnya tidak bersedia, mengeluarkan emosinya karena pertimbangan tertentu dan tidak terjadi abreaction, walaupun ia berada dalam kondisi profound somnambulism. Terapis perlu menggunakan strategi lain untuk membantu klien mengalami abreaction. Dari pengalaman, dua teknik yang saya sebutkan di atas sangat efektif untuk bisa mengatasi resistensi klien dan membuat klien bersedia melepaskan emosinya.
Ditinjau dari jenis emosi yang dikeluarkan, pada satu waktu tertentu, maka abreaction terbagi menjadi 3 (tiga): Mixed Emotion Abreaction, Anger Based Abreaction, dan  Hate Based Abreaction. Untuk setiap jenis abreaction ini dibutuhkan teknik yang sangat spesifik agar dicapai hasil yang optimal dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.
Abreaction memang sangat ampuh untuk membantu klien mengeluarkan tekanan emosi yang selama ini tersimpan atau ditekan di bawah sadar. Namun abreaction sendiri tidak bersifat terapeutik. Benar, dengan mengalami abreaction klien akan merasakan kelegaan yang luar biasa. Namun kelegaan ini hanya bersifat sementara. Tanpa penanganan lanjutan, setelah abreaction, maka klien akan kembali ke kondisi awal. Itu sebabnya ada pakar yang mengatakan, ìRevivification is not healing.î
Saat yang paling kritis untuk melakukan abreaction adalah saat terapis memutuskan apakah ia akan melakukan prosedur hypnotic abreaction atau tidak. Pilihannya hanya satu,  Ya atau tidak.  Tidak bisa ragu atau setengah-setengah. Begitu proses abreaction dimulai maka klien dan terapis masuk ke wilayah Point of  No Return. Abreaction harus dilakukan hingga benar-benar tuntas.
Bila abreaction terjadi, apalagi abreaction yang bersifat spontan akibat emosi yang terpendam dan selama ini tidak disadari oleh klien, dan tidak dituntaskan penanganannya maka ini akan sangat riskan dan merugikan klien. Klien bisa mengalami goncangan emosi dan bahkan bisa mengakibatkan klien menjadi tidak stabil.
Menangani abreaction sebenarnya mudah. Sehebat apapun abreaction yang dialami klien, bila terapisnya siap secara mental, tanggap, percaya diri, dan telah membekali diri dengan teknik penanganan abreaction yang efektif maka klien tetap bisa dengan mudah dibawa keluar dari kondisi ini.
Kesulitan penanganan abreaction sebenarnya bukan pada diri klien namun lebih pada diri terapis. Terapis yang tidak siap mental akan kaget atau bahkan ketakutan saat melihat kliennya abreaction.
Saat klien berada dalam kondisi deep trance dan mengalami abreaction maka adalah tugas terapis untuk membantu klien melakukan navigasi pikiran dan emosi untuk melewati pengalaman traumatik itu, mengeluarkan emosinya hingga tuntas, dan melakukan pembelajaran ulang baik secara kognitif maupun afektif.
Pada umumnya untuk membawa klien keluar dari kondisi abreaction digunakan teknik ‘Tempat Kedamaian’ atau Peaceful Place. Teknik ini dilakukan dengan cara meminta klien, sebelum proses hypnoanalysis dilakukan, membayangkan dirinya berada di tempat yang tenang, aman, dan nyaman. Klien diminta berada di tempat ini beberapa saat dan diminta untuk berjanji bahwa bila terapis meminta ia kembali ke tempat ini, kapanpun dan apapun situasinya, maka klien langsung kembali ke tempat ini.
Ini adalah emergency exit yang paling banyak digunakan oleh hipnoterapis pada umumnya namun dengan dua kelemahan yang sering tidak disadari.
Pertama, secara statistik diketahui bahwa orang yang modalitas utamanya visual hanya sekitar 27%. Berarti sisanya yang auditori dan kinestetik tidak akan bisa melakukan visualisasi tempat kedamaian.
Kedua, bila energi psikis klien lemah karena telah banyak terkuras dalam proses terapis maka besar kemungkinan klien tidak bisa menjalankan permintaan terapis untuk segera kembali ke tempat kedamaiannya, walaupun ia sangat ingin melakukannya.
Saya pernah mengalami hal ini. Saat seorang klien yang fobia terhadap benda tajam seperti pisau atau pedang, mengalami abreaction, dan saya perintahkan keluar dari situasi yang membuatnya ìmeledakî , ternyata ia hanya bisa keluar sesaat dan setelah itu ìtersedotî masuk kembali ke kejadian traumatiknya. Kembali saya meminta klien keluar dari pengalaman traumatik dan ia kembali ìtersedotî masuk. Ini terjadi berulang kali.
Dalam melakukan terapi saya tidak menggunakan teknik ‘Tempat Kedamaian’. Ada teknik lain yang jauh lebih praktis dan powerful yang selama ini saya gunakan dan selalu berhasil membawa klien keluar dari abreaction.
Namun pada kasus di atas teknik ini tidak efektif. Hingga akhirnya saya terpaksa menggunakan teknik lain yang lebih advanced untuk membawa klien keluar dan akhirnya berhasil.
Saat saya tanyakan kepada klien, ‘Mengapa tadi kok tidak bisa berhenti abreactionnya?’ Klien menjawab, ‘Saya sudah mengikuti bimbingan Pak Adi. Sempat keluar sesaat tapi setelah itu tersedot masuk kembali. Beberapa kali seperti itu.’
Abreaction yang efektif dan mampu memberikan hasil terapi yang permanen adalah yang dilakukan pada Initial Sensitizing Event (ISE), bukan pada Subsequent Sensitizing Event (SSE). Bila affect yang dikeluarkan berasal dari SSE maka release tidak bersifat menyeluruh dan cepat atau lambat klien pasti akan relapse. Ibarat memadamkan api, tidak langsung ke sumbernya.
ISE adalah kejadian yang menjadi awal atau akar masalah klien. Sedangkan SSE adalah kejadian lanjutan, yang dialami klien, yang memberikan kontribusi emosi dan memperkuat efek ISE hingga suatu saat muncul sebagai simtom.
Untuk menemukan ISE digunakan hypnoanalysis yang harus dilakukan secara cermat. Bila tidak, seringkali, terapis mengira telah berhasil menemukan ISE padahal masih SSE. Seringkali untuk bisa menemukan ISE harus melewati beberapa SSE. Dari pengalaman biasanya antara dibutuhkan penelusuran melalui antara satu hingga lima SSE untuk akhirnya bisa menemukan ISE.
ISE adalah memori yang berisi data mengenai kejadian yang dialami klien, plus pemaknaan dan emosi. Dalam melakukan penelusuran untuk mencari ISE bisa dilakukan dengan dua cara.
Cara pertama adalah dengan menggunakan cognitive bridge. Dalam hal ini terapis berusaha menemukan ISE melalui rangkaian pertanyaan yang diajukan pada klien dalam kondisi sadar normal. Prinsip kerja cognitive bridge adalah setiap memori saling terhubung. Dengan mengajukan pertanyaan yang tepat maka penelusuran data atau memori bisa dilakukan secara bertahap dan diharapkan, suatu saat nanti, berhasil mengungkapkan ISE.
Contohnya begini. Misalnya ada 3 data yang saling berhubungan, A, B, dan C. Kita bisa mencapai C, dengan titik awal A, melalui B. Dalam hal ini B adalah cognitive bridge yang menghubungkan A dan C.
Penggalian data menggunakan cognitive bridge bisa mengungkap ISE namun bmembutuhkan upaya yang tidak sedikit dan waktu yang lama. Biasanya kegagalan analytic therapy seperti ini terjadi karena data yang muncul lebih sering berasal dari pikiran sadar yang tidak mengakses perasaan atau emosi.
Dalam hipnoterapi ada cara yang jauh lebih efektif untuk mengungkapkan ISE yaitu dengan menggunakan affect bridge. Affect bridge bekerja berdasar prinsip bahwa semua memori atau kelompok memori yang ada di pikiran bawah sadar saling terhubung dengan emosi tertentu.
Dengan prinsip ini maka emosi yang dirasakan oleh klien saat sekarang, pada suatu kejadian atau situasi tertentu, dapat dilacak sumbernya di masa lalu klien, hingga ditemukan memori paling awal atau ISE. Syarat untuk bisa melakukan affect bridge yang efektif adalah menggunakan bantuan kondisi hipnosis, terutama pada level kedalaman profound somnambulism, dan intensitas emosi yang tinggi.
Apakah affect bridge adalah satu-satunya teknik yang efektif untuk bisa menemukan ISE?
Di pelatihan saya mengajarkan beberapa teknik lain yang sangat efektif untuk menemukan ISE. Affect bridge hanya salah satunya. Ada satu teknik yang sangat efektif  yang mampu langsung membawa klien ke ISE, tanpa harus melewati rangkaian SSE. Teknik lain ini akan saya bahas di kesempatan lain karena akan cukup teknis dan panjang.
Nah, pembaca, saya akhiri artikel ini dengan hal penting yang perlu diperhatikan bila hendak melakukan proses abreaction:
  1. Ego Strength terapis dan klien (cukup) kuat untuk menjalani proses abreaction.
  2. Terapis menguasai dengan baik teknik penanganan abreaction.
  3. Klien dibimbing masuk hingga ke kedalaman profound somnambulims.
  4. Abreaction paling optimal bila dilakukan dengan klien mengalami kembali pengalaman traumatik (revivification) yang dulunya tidak bisa/berhasil ia hadapi sepenuhnya.
  5. Melalui kerjasama dan bantuan terapis, klien mampu menghadapi situasi traumatik, kembali mengalaminya, melepas emosi yang tertekan, dan mengalami pembelajaran ulang baik pada aspek kognitif maupun afektif.
  6. Dalam kasus kekerasan yang dilakukan pada anak, klien bersama terapisnya berhadapan dengan pelaku kekerasan, mengatasi, dan membawa anak melewati pengalaman traumatik.
  7. Jika dirasa perlu dilakukan proses abreaction maka abreaction dilakukan hingga emosi yang selama ini tertekan di bawah sadar keluar semuanya hingga tuntas.
  8. Saat emosi yang tertekan telah berhasil dikeluarkan semuanya, terapis membantu klien melakukan pemaknaan ulang atas kejadian itu.
  9. Abreaction melibatkan prinsip counter-conditioning atau systematic desensitization.
Read More ->>

Membuang Kebodohan Dengan NLP

Setiap manusia pada dasarnya dikaruniai potensi kecerdasan agar dirinya sebagai individu bisa beradaptasi dengan lingkungan. Setiap manusia memiliki keunikan dan kecerdasan yang berbeda yang siap dikembangkan untuk disumbangkan dalam bentuk keterampilan kepada kehidupan. Perbedaan keunikan inilah yang menjadikan manusia saling belajar dan memberi keterampilan agar kehidupan ini menjadi dinamis dan bermakna. Kelebihan pada satu orang tidak dimiliki oleh orang lainnya dan sebaliknya.
Hanya saja, potensi kecerdasan atau keunikan itu sering kali tidak teraktualisasikan seiring dengan waktu dan tempat di mana seseorang itu tinggal. Lingkungan keluarga dan sekolah dengan metode pembelajarannya justru sering sekali ”membenamkan” potensi seorang siswa. Tidak jarang, pembelajaran di sekolah baik secara langsung atau tidak, menghasilkan persepsi keliru pada siswa: ”Akulah siswa yang pantas gagal!” atau ”Akulah anak paling bodoh di kelas ini!”
Ketika sebuah pembelajaran menghasilkan persepsi keliru seperti itu yang kemudian siswa meyakininya bahwa dirinya adalah ”anak bodoh” selama persepsi itu belum dirubah, selama itu pula potensi unik siswa sulit untuk berkembang. Persepsi keliru itu tersimpan di pikiran bawah sadar (batin) si anak yang menjadi operating system perilaku dirinya: begitu menghadapi soal yang sedikit sulit saja, ia segera menggunakan operating system-nya ”bahwa aku anak bodoh yang tidak mungkin mengerjakan soal seperti itu”.
Bagaimana merubah persepsi keliru itu? NLP atau neuro linguistic programming adalah cabang ilmu psikologi kognitif yang mempelajari dan memberikan sejumlah alat untuk merubah persepsi keliru. Dengan pendekatan NLP seseorang dapat merubah pola pikir keliru menuju pola pikir yang benar, dan memberdayakan diri. NLP memberikan sejumlah tools, agar persepsi keliru tentang dirinya dan tentang orang lain benar-benar memberayakan, bukan menjerumuskan.
Map is not Territory
Dalam NLP dikenal sebuah asumsi yang popular, map is not territory, peta bukanlah wilayah itu sendiri atau persepsi bukanlah realitas itu sendiri. Perssepsi adalah apa yang kita bayangkan dan rasakan dalam benak kita. Apa yang kita bayangkan berbeda dengan objek itu sendiri. Apa yang kita bayangkan atau persepsikan tergantung pada pengalaman subjektif kita. Contoh kata ”Gagal”, masing-masing orang berbeda menafsirkannya, ada yang menafsirkannya berarti ”menyerah dan tidak ada upaya lagi” namun bagi orang yang bermental sukses berarti, ”melipatkangandakan komitmen untuk bangkit lagi”.
Map is not territory, berarti juga segala sesuatu di luar pikiran (objek) itu netral adanya, hanya pikiran yang membuat makna. Contoh, apabila suatu pagi yang cerah Anda mendapatkan seonggok tas kresek (tas plastik) di halaman depan rumah. Anda penasaran ingin tahu apa isinya. Setelah dibuka, ternyata kotoran sapi! Dan berlebel ”Kiriman tetangga sebelah”. Anda marah? Boleh jadi apalagi tetangga itu sudah dikenal reseh dan suka usil. Namun demikian, boleh jadi tidak marah alih-alih mengucapkan ”Alhamdulillah” kotoran itu untuk dijadikan pupuk bunga di halaman belakang. Yang ingin saya katakan bahwa barangnya atau objeknya sama yakni tas kresek berisi kotoran sapi, namun marah atau tidaknya sangat tergantung pada pikiran kita dalam memberikan makna atau persepsi pada objek itu.
Map is not territory dapat diartikan pula “peta menentukan wilayah”. Pengertian ini berbeda dengan pengertian di bidang geografi yang berarti “wilayah menentukan peta”. Peta dalam pengertian NLP berarti “apa yang dipersepsikan” menentukan “tindakan”. Marah atau tidaknya seserorang terhadap tas kresek tadi tegantung apa yang dipersepsikan. Bila Anda menganggap sebagai bentuk ”penghinaan” Anda bisa marah namun bila menganggap sebagai ”pupuk”, Anda akan bersyukur.
Intinya manusia bertindak berdasarkan persepsinya, berdasarkan apa yang ada dalam benaknya, bukan bertindak karena objek-itu sendiri. Sebab, sekali lagi, objeknya tetap tetapi setiap orang punya persepsi yang berbeda terhadap objek itu.
Anatomi Pembodohan
Kenapa seorang siswa menjadi bodoh? Secara genetik mungkin iya. Namun, menurut hemat saya, lebih banyak karena persepsi yang keliru atau persepsi negatif si anak terhadap dirinya sendiri. Tidak sedikit siswa yang secara potensial itu cerdas tetapi karena menganggap (persepsi) yang keliru menjadikan dirinya terperangkap dalam pembodohan diri. Bila seorang anak terlanjur menganggap dirinya bahwa ”anak kampung”, ”anak gembel”, ”anak cacad”, ”anak tidak bakat”, bodoh”, dan persepsi negatif lainnya, maka selama itu pula ia tidak bisa berkembang karena terbelenggu oleh persepsinya sendiri.
Dari mana persepsi keliru itu terjadi? Dari lingkungan, sekolah, keluarga, dan orang-orang sekitar seperti guru, orang tua dan teman sebaya yang secara intens mempengaruhinya. Lingkungan adalah pembentuk atau programer bagi diri siswa yang paling berpengaruh. Misal, suatu ketika seorang siswa tidak dapat mengerjakan PR (pekerjaan rumah) lantas dimarahi sambil diamaki-maki ”Kamu bodoh!” oleh orang tua, saudara dan teman kelasnya, maka di situlah mulai bersemi dalam benaknya, ”bahwa aku anak bodoh!”
Kata ”bodoh” itu sendiri netral, dan hanya lima huruf. Kata itu tidak bernyawa dan apa adanya. Namun, bila kata itu diucapkan dengan intonasi tepat (seperti mamaki), dalam intensitas emosional yang tinggi dan ditujukan pada seorang anak, maka si anak mulai membuat makna, mulai membuat persepsi bahwa dirinya adalah ”anak bodoh”. Makian yang intens atau terlalu sering ditambah pengalaman seorang anak yang memang sering salah dalam mengerjakan PR-nya, maka di situlah muncul perubahan status ”persepsi bodoh” menjadi ”keyakinan bahwa dirinya benar-benar bodoh”.
Apabila persepsi sudah menjadi keyakinan (belief system) di batin siswa maka keyakinan inilah yang akan menjerumuskan hidupnya. Kalau seorang anak sudah terlanjur yakin bahwa dirinya adalah anak bodoh, sudah memvonis diri bahwa dirinya tidak pantas sukses, ia menjadi anak pesimis atau anak yang tidak percaya bahwa dirinya secara potensial itu cerdas. Contoh, bila ada seorang siswa yang sudah merasa bahwa dirinya tidak bakat Bahasa Inggris, meski diberi kesempatan kursus gratis pun ia akan menolak!
Di dalam diri siswa, dalam pikiran bawah sadar siswa banyak bersemayam keyakinan negatif, penghambat kemajuan belajar. Dalam pikiran bawah sadar siswa atau batin siswa banyak file negatif atau virus-virus yang merusak dan menghambat berkembangnya potensi diri. Dimulai dari merasa bodoh, merasa tidak percaya diri, pesimis, hingga muncul rasa takut untuk mencoba dan takut bertanya kepada guru. Apabila virus-virus itu tetap dibiarkan, maka pembodohan diri sedang berlangsung.
Bangun Prestasi Kecil Harian
Sekali lagi saya tekankan bahwa segala sesuatu (objek) di luar pikiran itu netral adanya, hanya pikiran –karena pengalaman subjektifnya—yang membuat persepsi. Seseorang menjadi marah atau malah berterimah kasih karena tas kresek berisi kotoran, karena pengalaman subjektifnya. Seorang siswa merasa bodoh juga karena pengalaman subjektifnya yakni sering dimaki bodoh dan punya banyak pengalaman mengerjakan PR tidak bisa misalnya.
Lebih dari itu sesungguhnya kenapa seseorang sampai terperangkap dalam persepsi negatif? Karena ia memaknainya secara negatif. Ia membingkai pengalamannya secara negatif atau keliru. Kalau segala sesuatunya (objek) adalah netral maka sesungguhnya seseorang memiliki pilihan: membingkai persepsinya secara negatif atau positif. Apabila seorang siswa setiap saat mendapatkan pengalaman buruk (dimaki bodoh pada saat tidak dapat mengerjakan PR) membingkainya secara negatif maka yang muncul kemudian adalah keyakinan negatif (dirinya bodoh). Sebaliknya apabila ia membingkainya secara positif, maka beda hasilnya yakni makian bodoh justru diartikan sebagai pemicu untuk membuktikan bahwa dirinya adalah anak pintar. Ia bebas memilih, bingkai mana yang hendak digunakan.
Meskipun demikian, adalah tidak mudah untuk memilih bagi seorang anak. Ia cenderung membingkai pengalamanya secara negatif saat dimaki-maki. Sebab, pada umumnya anak-anak khususnya pada saat masih SD, ketika dimaki secara intens bahwa ia bodoh, ia langsung mempercayainya. Pikiran kritisnya belum mampu menolak bahwa misalnya, ia memang bodoh di bidang matematika, tetapi ia cerdas di bidang bahasa, seni atau yang lain. Sepanjang tidak ada orang lain yang memberi tahu bahwa ia sesungguhnya anak cerdas di bidang seni dan bahasa, atau ia sesungguhnya bisa matematika asal tekun dan sabar, maka persepsi negatif tetap terbingkai menjadi keyakinan keliru. Singkatnya, guru hendaknya membantu membingkai ulang agar siswa tidak terjerumus dalam persepsi keliru/keyakinan keliru.
Caranya, bangun keyakinan baru bahwa sesungguhnya ia pun cerdas. Bangun pemahaman baru tentang dirinya bahwa ia bukan anak bodoh agar mulai mucul rasa percaya diri. Upayakan ia memiliki prestasi kecil harian, seperti mampu mngerjakan PR, mampu tepat waktu, mampu bertanya, mampu menulis karangan kecil, mampu membuat kerajinan, mampu memenangkan lomba-lomba tingkat kelas dan lain-lain. Demikian juga orang tuanya, harus memberikan kesempatan padanya untuk berpresatasi kecil di rumah.
Semakin sering seorang anak mampu menciptakan prestasi harian, rasa percaya dirinya naik. Persepsi tentang dirinya bodoh lambat laun mulai terkikis. Sampai akhirnya ia memiliki persepsi yang benar atas dirinya seperti; ”Kalau orang lain bisa aku juga bisa”, ”Aku bisa matematika asal tekun”, ”Aku agak lambat dalam memahami matematika tetapi cepat dalam pelajaran bahasa” dan lain-lain. Pada akhirnya, ia akan berjanji pada dirinya, ”Aku ingin membuktikan pada dunia bahwa aku bisa!”. Optimisme yang dibangun berdasarkan prestasi harian akan mampu menghancurkan virus-virus penghambat kemajuan anak.
Melalui prestasi harian itu, seorang anak akan memiliki keyakinan positif terhadap dirinya. Bila keyakinan positif muncul, ia akn mengerjakan segala sesuatunya dengan lebih baik (usahanya akan naik); bila naik usahanya maka naik pula hasilnya, bila naik maka keyakinannya pun naik dan seterusnya. Sampai di sini saya ingin mengatakan bahwa keyakinan positif akan menghancurkan segala bentuk virus pembodohan diri.
Bangkitlah anak Indonesia, Anda bisa!
Read More ->>

Apa Itu NLP?


Add caption
Apa Itu Neuro-Linguistic Programming?
Ah, Anda masih asing dan penasaran dengan NLP?
Tenang. Dan simak pengantar berikut ini.
Apa itu NLP?
Secara istilah, NLP atau Neuro-Linguistic Programming adalah sebuah teknologi optimalisasi potensi diri yang mendayagunakan cara kerja alamiah pikiran dan perasaan manusia untuk mencapai yang diinginkan. Disebut dengan nama demikian tentu bukan tanpa alasan. Ya, manusia adalah makhluk neuro-linguistic. Sebutlah sebuah kondisi pikiran dan perasaan tertentu yang kita alami, pastilah ia tidak pernah bisa lepas dari peran kata-kata atau kalimat sebagai pemicunya. Mendengar sesuatu yang menyenangkan, bahagialah kita. Mendengar sesuatu yang menyebalkan, kesallah yang muncul.
Sementara kata programming juga bukan muncul sekedar untuk gagah-gagahan. Disebut demikian karena kata tersebut mengasumsikan sesuatu yang dinamis. Ya, pikiran dan perasaan, yang sejatinya adalah susunan saraf, adalah sebuah program layaknya seperti program komputer. Karena ia sebuah program, maka tentu ia bisa di-reprogram, sesuatu dengan kebutuhan. Persis seperti program komputer yang bisa di instal, reinstal, upgrade, dsb. Demikian pula dengan pikiran dan perasaan kita. Karenanya, setiap orang mampu mengubah pikiran dan perasaannya sesuai dengan keinginan dan kebutuhannya.
Bagaimana NLP dikembangkan?
NLP dikembangkan pertama kali oleh duo jenius, Richard Bandler dan John Grinder pada era tahun 70-an di University of California, Santa Cruz. Bermodal rasa penasaran terhadap beberapa orang psikoterapis mumpuni yang begitu ekselen, mereka memodel keahlian para wizard itu. Memodel? Ya, memodel. Alih-alih melakukan riset sebagaimana layaknya tradisi ilmiah yang ada saat itu, keduanya bersama rekan-rekan yang lain berniat menemukan perbedaan yang membedakan (the difference that makes a difference) dari para terapis handal tersebut. Orientasi mereka amat pragmatis, karenanya proses tersebut mereka sebut dengan modeling.
Belakangan, disimpulkan bahwa, di balik begitu banyaknya teknik-teknik praktis yang berhasil dikembangkan oleh NLP, modeling adalah inti yang sesungguhnya yang membedakan NLP dengan berbagai pendekatan lain. Orang boleh membandingkan dan menyebutkan bahwa NLP ‘mencontek’ model-model yang sudah ada, namun tanpa modeling mindset, hasilnya akan jauh berbeda.
Berangkat dari kesuksesan memodel para terapis, para pengembang NLP pun melebarkan sayap ke bidang-bidang lain seperti olah raga, bisnis, kesehatan, pendidikan, dll. Bahkan, saat ini tengah mulai marak para Praktisi NLP yang memodel aktivitas spiritual.
Apa saja yang ada di dalam NLP?
Secara umum, NLP terbagi menjadi 2 bagian. Bagian pertama disebut dengan NLP Model, sementara bagian kedua adalah NLP Technique. NLP Model adalah pelajaran-pelajaran dalam NLP seperti layaknya belajar menjadi seorang koki. Tentu seorang koki tidak akan belajar berbagai resep memasak, kan? Ya, mereka belajar tahap demi tahap yang lebih detil dari proses pemilihan bahan, cara memotong, cara mengkombinasikan satu bahan dengan yang lain, cara menggoreng, hingga cara menyajikan. Hasilnya, seorang koki akan mampu menghadirkan aneka ragam resep baru hasil kreasi mereka sendiri sesuai dengan permintaan pelanggan. Yang termasuk dalam NLP Model adalah materi-materi seperti Representational System, Submodality, dan Linguistic.
Sementara itu, NLP Technique adalah teknik-teknik jadi yang sudah berhasil dikembangkan hingga saat ini. Ini adalah resep-resep jadi yang siap pakai sesuai dengan kebutuhan. Teknik-teknik masyhur tersebut di antaranya adalah Fast Phobia Cure, Swish Pattern, Anchoring, Time Line Therapy, dll.
Berangkat dari 2 bagian besar tersebut, dapat dikembangkan berbagai aplikasi dalam berbagai bidang seperti terapi, kesehatan, olah raga, pendidikan, bisnis, spiritualitas, dll.
Apa saja aplikasi NLP?
Hampir setiap bidang yang melibatkan pikiran dan perasaan manusia pasti bisa di-enhance dengan NLP. Dengan kata lain, NLP bisa terlibat dalam semua bidang. Berikut ini adalah deskripsi singkatnya.
Terapi. Melakukan berbagai terapi psikologis dengan lebih efektif dan tingkat keberhasilan lebih tinggi serta waktu relatif lebih cepat. Uniknya, NLP yang fokus pada struktur dari sebuah pengalaman membuat proses terapi bisa berjalan tanpa harus mengetahui detil kisah klien (silent therapy).
Kesehatan. Sudah jamak kita tahu bahwa tubuh dan pikiran adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan. Maka urusan kesehatan adalah urusan bagaimana kita mengelola pikiran dan perasaan agar selaras dengan kondisi kesehatan yang kita inginkan. Jika dunia kedokteran telah begitu canggih mengintervensi fisik, maka NLP akan mengakselerasinya dengan mengintervensi pikiran dan perasaan kita. Kelebihan NLP dalam keahlian komunikasi dan linguistik menjadikan ilmu ini begitu berharga untuk dikuasai oleh para praktisi kesehatan. Bagaimana tidak? Sementara para pasien sudah memiliki kepercayaan yang tinggi pada praktisi kesehatan (dokter, perawat, dll), tentu sebuah keuntungan jika mereka mampu menggunakan model komunikasi canggih NLP untuk meningkatkan kepercayaan dan motivasi sembuh dari pasien.
Olah raga. Semenjak Timothy Gallwey mengeluarkan bukunya, “The Inner Game of Tennis”, dunia olah raga begitu menyadari bahwa para atlet kelas dunia bisa sukses bukan hanya karena jam terbang latihan mereka yang di atas rata-rata. Sebab di lapangan pertandinga, inner game, alias permainan pikiran dan perasaan jauh lebih penting menentukan seberapa besar potensi seseorang akan dimunculkan secara maksimal.
Pendidikan. Adalah visi dan misi pendidikan masa kini untuk menjadikan proses belajar sebagai sesuatu yang menyenangkan lagi menggairahkan. Dan Anda tentu sepakat bahwa mustahil melakukan hal itu jika kita tidak tahu-menahu tentang bagaimana manusia mampu memunculkan rasa senang dan gairah secara konsisten. Nah, di titik krusial inilah NLP memainkan peran. Seorang guru/trainer/coach akan belajar bagaimana mendesain sebuah kelas yang memicu pesertanya untuk belajar dengan mudah, cepat, dan menyenangkan.
Bisnis. Tidak ada bidang yang lebih bergairah pertama kali untuk mendayagunakan NLP selain bisnis. Ya, kondisi bisnis masa kini yang menghendaki efektivitas bersamaan dengan efisiensi menjadikan setiap perusahaan selalu berusaha mencari cara yang paling cepat dan paling akurat untuk memastikan setiap karyawan senantiasa dalam kinerja optimal mereka. Tak ayal lagi, NLP pun merambah dunia bisnis dalam bentuk kelas-kelas motivasi, persuasi, pelayanan pelanggan, kerja sama tim, coaching, dll.

Tentang Kami

Indonesian NLP Conference, adalah gelaran yang digawangi oleh Indonesia NLP Society (www.indonesianlpsociety.org). Sebuah komunitas virtual pembelajar NLP yang didirikan sejak 3 April 2007, dan saat ini dimeriahkan oleh lebih dari 950 orang.
Bermula dari diskusi via milis, INLPS pun menyemarakkan dunia NLP Indonesia, melalui acara-acara rutin seperti NLP Talks. Acara bulanan yang menghadirkan beragam pembicara dari berbagai disiplin aplikasi NLP ini lah yang kemudia menginspirasi para penggeraknya, guna mengadakan kegiatan akbar untuk pertama kalinya pada 3 April 2010 lalu. Ya, tepat di ulang tahunnya yang ketiga, dilanjutkan dengan gelaran kedua pada 2 April 2011.
Sudah tidak terhitung berapa banyak praktisi, master praktisi, dan pelatih berbasis NLP yang lahir dari komunitas ini. Memimpikan sebuah model NLP yang mengeksplorasi kekayaan budaya nusantara, INLPS pun begitu bergairah sebanyak dan sesering mungkin mengumpulkan para pembelajar dan pegiat NLP di negeri ini.
Perjalanan masih panjang, nan menyenangkan. Dan di gelaran “Indonesian NLP Conference” ketiga kali ini, INLPS pun mengusung “Modeling Indonesia” sebagai tema sentral. Semata-mata ditujukan agar NLP menjadi sebuah disiplin ilmu yang membumi, menggali kekayaan ilmu di negeri ini, serta menggerakkan setiap insan menghadirkan kehidupan dan karya terbaiknya.

Materi Sebelumnya :

Trance and Possession – Asep Haerul Gani

Read More ->>